KEBANGKITAN KEMBALI PEMUDA INDONESIA 1908-2008


1. LATAR BELAKANG
 
       GENERASI baru yang terdidik secara baru melahirkan kesadaran baru,
bahwa nasib rakyat tidak bisa digantungkan dengan cuma mengandalkan pada
impian ratu adil. Kesadaran baru itu menyeruak di seputar 28 Oktober 2007
lalu, atau lebih tepatnya pada momentum menyongsong peringatan 100 tahun
Kebangkitan Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda, dengan mengibarkan
jargon “saatnya kaum muda memimpin” lewat jargon yang lain: “jalan baru,
pemimpin baru” 1.


      Itulah yang menandai momentum kesadaran akan perlunya kebangkitan
pemuda Indonesia, sebagai saat yang tepat untuk mempertanyakan kembali
kiprah tokoh-tokoh muda lintas partai, lintas agama, lintas etnik, dan lintas
golongan, untuk menyatukan berbagai kepentingan faksional ke dalam suatu
kehendak kolektif, yang disebut Antonio Gramsci sebagai historical bloc 2.
Terhadap cita-cita Proklamasi yang selain mengamanatkan “pemindahan
kekuasaan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”, tampaknya kita
cenderung melupakan pesan yang tersirat pada kata-kata “dan lain-lain”, yang
sekarang ini tetap menjadi misteri dan belum kunjung tersentuh oleh kita semua.


     Oleh karena itu, pada titik persimpangan sejarah sekarang ini, adalah
saatnya pergerakan pemuda Indonesia kembali dinanti, untuk memberi arah
perjalanan bangsa ke depan. Bukankah kaum muda selalu muncul menjadi
pelopor untuk menghentikan kesunyian sejarah dengan mengobarkan api
kehidupan, yang mencirikan pemuda sebagai pilar kebangkitan sebuah bangsa?
Kini kegelisahan para pemuda kian mengental, yang mungkin saja bisa
menjadi sebuah ledakan energi yang tumpah tak tertahankan. Dalam suasana
yang menyimpan magma kegelisahan kaum muda seperti itu, menjadi
momentum yang tepat dalam membidani lahirnya Undang-Undang tentang
Kepemudaan nanti. 

     Substansinya adalah menempatkan generasi muda sebagai
subyek utama pembangunan guna menjamin kelangsungan masa depan
Indonesia melalui perbaikan pendidikan, peningkatan kualitas hidup, dan
perlindungan hukum sebagai pemenuhan hak-hak asasi pemuda.


2. BUKTI SEJARAH
 
      DALAM hal itu, sejarah Indonesia telah membuktikan kebenarannya.
Revolusi 1945 adalah revolusi pemuda, yang merupakan klimaks dari long
march perjuangan bangsa sejak masa pra-kemerdekaan. Tokoh-tokoh
sentralnya, seperti dr Sutomo dan dr Wahidin Sudirohusodo, yang menggagas
perkumpulan Budi Oetomo, HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam, adalah
orang-orang muda pada zamannya. Mereka adalah para pioner ulung, konseptor
pergerakan pada masa pra-kemerdekaan. Bahkan Bung Karno dan Bung Hatta
menjadi pimpinan negara pada usia muda, masing-masing 44 dan 43 tahun.
Pendek kata, pemuda adalah nafas zaman, tumpuan masa depan bangsa
yang kaya akan kritik, imajinasi, serta peran dalam setiap peristiwa yang terjadi
di tengah perubahan masyarakat –agent of change. Tidak bisa dipungkiri
pemuda memegang peran penting dalam hampir setiap transformasi sosial dan
perjuangan meraih cita-cita. Abad 20, dalam perspektif bangsa kita,
sesungguhnya adalah sejarah anak-anak muda.
      Namun itu bukan hanya milik Indonesia. Revolusi Perancis yang
menumbangkan monarki dan gereja di abad pertengahan digerakkan oleh kaum
intelektual muda. Pemuda Rosseu, Montesquieu, menjadi motor penggerak
revolusi menandai zaman baru dan mengilhami bangkitnya renaisans di Eropa.
Di Rusia, Revolusi Bolsevik menumbangkan Tsar Nicholas II beserta Dinasti
Romanov.


     Revolusi Hongaria meletus di tangan para pemuda dan mahasiswa yang
menetang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka. Eropa Barat juga
menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun 60-
an: mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator Jenderal Franco pada 1965;
hal yang sama juga terjadi di Perancis, Italia, Belgia, dan negara Eropa lainnya.
Di dunia Islam Asia-Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit
mempelopori perlawanan terhadap penjajah di sepanjang paruh pertama abad
ke-20 sampai tahun 70-an. Para pemudalah yang terlibat dalam Revolusi
Aljazair 1954, mengenyahkan Perancis dari tanah itu. Mereka juga berhasil
mengusir Inggris dari Mesir. Sejak 1987 hingga sekarang, anak-anak muda
bahkan yang masih bocah, telah meletuskan gerakan intifadhah melawan
penjajahan Israel di Palestina.


3. REFLEKSI SUMPAH PEMUDA

     SEBAGAI produk sebuah kesadaran kolektif, Sumpah Pemuda melintasi
imajinasi zamannya. Ia tercetus 17 tahun sebelum Indonesia merdeka, ketika
jarak waktu masih dijauhkan oleh jarak-ruang, jarak-psikologis, jarakkesadaran,
dan jarak-informasi. Belum ada jet pelintas batas ruang. Belum ada
prosesor pelintas batas informasi berkecepatan giga-hertz. Belum ada semua hal
seperti sekarang yang memungkinkan dilakukan pemendekan jarak-waktu (time
dilation).
     Menariknya lagi, ketika itu tidak ada jaminan bahwa apa yang dilakukan
oleh para Pemuda 1928 itu akan memiliki muara sejarah yang jelas, dan juga
mulia. Satu-satunya jaminan adalah keyakinan. Sekarang kita tahu muara dan
arti keyakinan itu, karena kita bebas merdeka dan berdaulat di bumi Nusantara
yang dihuni lebih dari 200 juta lebih manusia Indonesia.
Meski banyak nada pesimistis akan generasi muda masa kini, masih
cukup banyak dari mereka yang mendengarkan gema nyaring Sumpah Pemuda
serta terus berdentang dan mendentangkan imajinasi di lubuk hati yang paling
dalam. Tetapi mengapa gema Sumpah Pemuda mampu terus bertahan? Pertama,
karena berisi gagasan jernih, jujur, cerdas, dan lugas, yang diungkapkan secara
jernih, jujur, cerdas, dan lugas pula. Pemuda 1928 berhasil menangkap ruh
keIndonesiaan, lalu mengekspresikan itu dalam Sumpah Pemuda. Kedua,
gagasan itu melintasi imajinasi zamannya.


4. REGENERASI ATAU REJUVENASI?
 
      MENJELANG peringatan Sumpah Pemuda ke-79 pada 28 Oktober 2007
lalu, terdengar kembali tuntutan kebangkitan pemuda atau seruan agar kaum
muda mulai mengambil alih kepemimpinan. Tuntutan dan seruan ini tampaknya
relevan, mengingat kegagalan reformasi yang dulu justru digerakkan oleh
pemuda. Cara yang digagas adalah melakukan perubahan atau transformasi
politik sebagai hal yang paling fundamental yang harus dikerjakan generasi
muda. Persoalannya, jika politik tidak berhasil melakukan perubahan, faktor apa
yang salah dari lembaga politik tersebut?


     Setidaknya ada enam faktor: masalah konsep atau ideologi, sistem,
lembaga, strategi, program, implementasi program, dan aktor politik. Andaikata
tidak ada persoalan pada kelima faktor terdahulu, maka kegagalan politik terkait
pada aktor politik. Persoalan aktor politik yang bisa muncul adalah tentang visi
dan kemampuan. Visi umumnya bersifat transenden untuk kepentingan
mencapai cita-cita politik jangka panjang. Sedangkan kemampuan merupakan
kesanggupan implementatif, yang selain skill, juga menuntut kemampuan fisik.
      Dalam politik yang menekankan pentingnya aktor yang bersifat personal,
maka persoalan kemampuan fisik menjadi hal yang penting. Karena itu, sejauh
mana politik mampu melakukan perubahan sangat tergantung sejauh mana
lembaga politik melakukan regenerasi terhadap aktor-aktornya. Sebaliknya ada
yang berpikir bahwa visi bisa diimplementasikan oleh skill dan kemampuan
sistem yang bersifat impersonal. Dalam hal ini, yang dilaksanakan bukan
regenerasi, melainkan rejuvenasi terhadap visi sang aktor


5. PEMUDA HARUS MENGAMBIL PERAN
 
     TAHUN 2008 mendatang genap 100 tahun momen Kebangkitan
Nasional, sekaligus 80 tahun Sumpah Pemuda. Secara resultantif, tahun 2008
seharusnya menjadi momen penting bagi pemuda untuk memprakarsai sebuah
kebangkitan baru. Jika momen 1908 menyemaikan cita-cita kemerdekaan, 1928
mempertegas bingkai cita-cita itu, 1945 memancang tonggak perwujudan citacita
itu, maka pertanyaannya, momen 2008 akan menyemai apa, mempertegas
apa, dan mewujudkan apa?
     Sumpah Pemuda 1928 ditandai oleh semangat untuk secara sadar dan
cerdas mencita-citakan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Menuju
momen 80 tahun Sumpah Pemuda, pertanyaannya, Pemuda 2008 mencitacitakan
apa untuk Indonesia? Tetapi apa pun jawabannya, jawaban itu harus
mampu mendorong sebuah kebangkitan baru, kebangkitan Indonesia abad 21,
kebangkitan sesuai semangat dan karakter zamannya.


Sumber : Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta
Keynote Speech
KEBANGKITAN KEMBALI PEMUDA INDONESIA 1908-2008 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mambaur Roziq Alwi

No comments:

Post a Comment